Selasa, 18 November 2025

RPP itu bukan sekedar administrasi

Sebagai pendidik, kita semua akrab dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Sayangnya, bagi banyak guru, RPP sering dianggap tidak lebih dari " sebuah dokumen formalitas untuk menyenangkan atasan atau supervisor. Prosesnya terasa membosankan, membuang waktu, dan seringkali tidak berkorelasi langsung dengan apa yang terjadi di kelas.

Namun, jika kita serius ingin meningkatkan kualitas pendidikan, terutama di pelajaran matematika —yang kerap menjadi momok bagi siswa—paradigma ini harus diubah. Solusinya terletak pada apa yang disebut oleh para peneliti sebagai Formt RPP Empat Kolom. Ini bukan sekadar format baru, melainkan sebuah filosofi perencanaan yang menuntut guru untuk berpikir secara pedagogis sebelum mengajar.

Mengapa RPP Konvensional Gagal?

RPP konvensional cenderung fokus pada urutan kegiatan guru: Guru A melakukan ini, Siswa B melakukan itu. RPP jenis ini gagal memicu apa yang disebut Shulman (1987) sebagai "penalaran dan tindakan pedagogis" (pedagogical reasoning and action). Guru fokus pada delivery (penyampaian) materi, bukan pada comprehension (pemahaman) siswa.

Empat Pilar RPP
Artikel ini mengajak Anda untuk mengenal dan mempraktikkan format RPP multi-kolom—khususnya RPP empat kolom—yang telah terbukti menjadi alat pengembangan profesional yang sangat bernilai. RPP Empat Kolom: Merancang Interaksi, Bukan Sekadar Aktivitas

Model RPP empat kolom, yang digunakan dalam banyak studi pelajaran, memaksa kita untuk menggali lebih dalam tiga dimensi sentral pengajaran: konten matematikapemikiran siswa, dan pengetahuan strategis guru (Shulman, 1987).

Berikut adalah empat komponen utama dari RPP ini (lihat Gambar):
  1. Deskripsi Bagian Tugas dengan Alokasi Waktu: Memastikan keseimbangan peran antara guru dan siswa serta ketersediaan waktu yang cukup untuk setiap kegiatan.
  2. Aktivitas Guru: Mendetailkan secara tepat apa yang akan dikatakan dan dilakukan guru, termasuk merumuskan pertanyaan probing yang mendorong pemikiran tingkat tinggi. Ini menuntut guru untuk benar-benar menguasai dan "membedah" konsep mendalam dari materi ajar.
  3. Aktivitas dan Pemikiran Siswa yang Diantisipasi: Ini adalah inti dari pengembangan profesional.Guru didorong untuk "berpikir seperti siswa" dan meramalkan berbagai respon, pemahaman, dan bahkan miskonsepsi yang mungkin muncul.
  4. Intervensi: Tindakan dan Pertanyaan yang Diantisipasi untuk Menjaga Tugas pada Tuntutan Kognitif Tinggi: Kolom ini adalah rencana darurat dan pengayaan. Berdasarkan miskonsepsi atau jawaban yang diantisipasi (Kolom 3), guru merencanakan secara spesifik intervensi apa yang akan diberikan agar siswa tetap fokus pada konsep matematis utama dan menjaga tantangan kognitif tetap tinggi.
Mengapa Proses Ini Bermanfaat?

Berdasarkan penelitian terhadap guru dan calon guru yang menggunakan format ini, manfaat utamanya terbagi menjadi dua:


Para guru mengakui bahwa RPP empat kolom memaksa mereka untuk berpikir dari sudut pandang siswa. Dengan mengantisipasi respon, mereka tidak lagi hanya berfokus pada "apa yang harus saya ajarkan," melainkan "bagaimana siswa akan memahami dan mengolah informasi ini." 

Hal ini sejalan dengan konsep transformasi (adaptasi dan penyesuaian) pengajaran Shulman, di mana materi disesuaikan dengan karakteristik spesifik siswa di kelas (Shulman, 1987).

Bahkan guru berpengalaman merasa bahwa mengantisipasi tindakan dan pertanyaan siswa adalah "sesuatu yang tidak biasa" dalam perencanaan harian mereka. Namun, dengan melakukan ini, pelajaran menjadi "lebih terstruktur"dan guru dapat terhubung dengan "makna yang lebih dalam dalam pelajaran".

2. Meningkatkan Keterampilan Bertanya Kritis (Critical Questioning)

Untuk mengisi kolom 4 (Intervensi), guru harus menyusun pertanyaan terbuka (open-ended questions) yang spesifik dan efektif. Proses perencanaan ini secara kolektif membuat guru menyadari perlunya meningkatkan teknik bertanyamereka, memberikan lebih banyak waktu berpikir (think time), dan menahan diri untuk tidak "memberi tahu atau memimpin" jawaban siswa.

Antisipasi terhadap miskonsepsi memicu guru untuk memikirkan cara-cara memperluas pelajaran ke ide-ide matematis yang lebih kompleks. Seperti yang diungkapkan seorang guru, ia mulai "memikirkan ide-ide bagaimana memperluas pelajaran"setelah meramalkan masalah yang mungkin timbul.Tips Praktis untuk Memulai

Meskipun RPP empat kolom tidak dapat digunakan untuk setiap pelajaran, ini adalah proses analitis yang sangat baik untuk pelajaran yang dianggap sulit atau penting.
  • Pilih Satu Pelajaran Sulit:Mulailah dengan pelajaran yang menurut Anda atau siswa Anda sangat bermasalah di masa lalu.
  • Kerja Mandiri atau Kolaboratif: Anda bisa melakukannya sendiri atau, yang lebih efektif, dengan satu atau dua rekan kerja untuk saling menganalisis konten dan mengantisipasi intervensi.
  • Fokus pada Konten Mendalam (Langkah 2): Jangan terkejut jika Anda perlu melakukan riset untuk menyelesaikan masalah matematika itu sendiri. Pemahaman mendalam Anda adalah prasyarat untuk merumuskan aktivitas guru yang tepat.
  • Intensif di Kolom 3 & 4: Luangkan waktu paling banyak untuk mengantisipasi minimal tiga cara berbeda siswa memahami ide matematika (Kolom 3) dan merancang pertanyaan intervensi yang tepat untuk setiap skenario (Kolom 4).
Penutup

Bapak/Ibu guru, waktu yang Anda investasikan dalam RPP empat kolom adalah waktu yang diinvestasikan dalam pengembangan profesional Anda. Proses ini mengalihkan fokus dari sekadar mengelola aktivitas (sequence of activities) menjadi fokus pada interaksi guru-siswa dalam proses belajar mengajar. 

Hasilnya, Anda akan merasa lebih percaya diri, dan yang terpenting, interaksi Anda dengan siswa akan membaik, mendukung pemahaman konseptual mereka di atas pemahaman prosedural. Mari kita jadikan perencanaan pembelajaran sebagai ruang refleksi dan pertumbuhan profesional kita.


REFERENCES
Linked references are available on JSTOR for this article:
http://www.jstor.org/stable/41198936?seq=1&cid=pdf-reference#references_tab_contents
You may need to log in to JSTOR to access the linked references.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar