Postingan

Mengukur Efektivitas Sekolah

Gambar
Efektifitas adalah ukuran sejauh mana yang kita harapkan tercapai. Dalam kaitannya dengan persekolahan, apa yang diharapkan dituliskan dalam visi misi dan tujuan sekolah. Oleh karena itu, sekolah yang efektif dapat juga dikatakan sebagai sekolah yang mampu memberdayakan seluruh komponen sekolah untuk mencapai visi misi dan tujuan sekolah. Salah satu model yang saat ini banyak digunakan untuk mengukur efektifitas sekolah adalah sekolah berbasis mutu total . Model ini mengukur efektivitas sekolah dari segi kepemimpinan, manajemen SDM, manajemen proses, perencanaan, serta dampak ke masyarakat. (Schreerens & Bosker, 1997). Supaya sukses dalam menerapkan model ini, sekolah harus ditopang lima pilar utama yaitu:  (1) fokus pada pelanggan (siswa, guru dan orang tua); (2) Keterlibatan total semua warga sekolah; (3) Menggunakan data sebagai pengambil keputusan; (4) Komitmen pada perubahan, serta (5) perbaikan terus menerus (continious learning ). Lebih lanjut menurut Crech (199...

How to Help Teachers Succeed

Gambar
Ada banyak pandangan tentang  bagaimana guru bertumbuh dan berkembang menjadi sukses dalam menjalankan tugasnya. Glickman melalui bukunya  "Leadership for learning: How to Teachers Succeed" menyarankan kepada para kepala sekolah atau pengawas sekolah untuk mengkaji dua aspek berikut, yaitu tingkat komitmen dan tingkat abstraksi guru . Hasil pengkajian kedua aspek ini kemudian digunakan sebagai dasar untuk memilih pendekatan pengembangan guru yang akan diterapkan. Komitmen Komitmen merujuk kepada usaha dan penyediaan waktu dalam melaksanakan tugasnya secara relatif lebih banyak dari apa yang telah ditetapkan baginya. Komitmen lebih luas daripada concern (perhatian), sebab komitmen itu mencakup waktu dan usaha. Berdasarkan tingkat komitemnnya, ada guru yang komitmennya rendah dan tinggi. Guru yang memiliki komitemen rendah cenderung : (1) sedikit sekali perhatiannya terhadap siswa-siswanya; (2) waktunya yang disediakan untuk mengembangkan kerjanya sangat sedikit...

Super, Excellent atau Good Teacher?

Gambar
Mengajar adalah profesi yang paling indah di dunia. Sebagai guru kita membuat kontribusi langsung dan terukur bagi bangsa kita dan bagi dunia dengan membantu anak-anak muda mengenal pengetahuan dan keterampilan. Kita tahu bahwa kita menghabiskan waktu untuk mencapai tujuan terhormat dan hidup Kita mempunyai satu tujuan. Walaupun, pasti Kita telah tahu bahwa bayaran guru itu kejam, karena sebagian besar orang di luar pendidikan memandang profesi mengajar seperti menjaga bayi dengan buku. Sebagai akibatnya, jika kekayaan dan gengsi adalah hal yang penting buat Kita, profesi mengajar akan menjadi hal yang mengecewakan. Mengajar juga memberikan rasa sakit fisik: berjam-jam berdiri, membungkuk untuk membaca tulisan kecil di meja yang kecil pula, dan membawa tepat buku-buku dan kertas dari dan ke rumah yang dapat mengakibatkan kita pulang ke rumah dengan kaki pegal, punggung dan kepala yang sakit. Pada dasarnya guru terbagi dalam tiga rasa dasar- super, excellent, dan good. Rasa a...

Level Motivasi Pembelajaran Aktif

Gambar
Permasalahan motivasilah yang sering kita temukan di awal kehadiran siswa kita di kelas. Sayangnya, permasalahan motivasi jugalah yang akan kita saksikan pada hari terakhir tahun ajaran sekolah. Meskipun ada banyak sekali buku yang ditulis tentang motivasi, serta segala macam pertemuan guru yang membahas masalah tersebut, sebagian besar dari kita masih sulit mengubah para siswa yang menghidari belajar dan yang belajar dengan setengah hati, menjadi siswa yang bertanggung jawab dan pelajar yang sepenuhnya aktif.                 Akan tetapi tidak semua guru merasa demikian.  Beberapa guru, yang saya sebut sebagai guru hebat, memiliki trik khusus untuk membuat siswa meningkatkan motivasi mereka. Jika kita mengunjungi kelas mereka, kita akan melihat, minggu demi minggu, semakin sedikit siswa yang termasuk kategori motivasi ketiga dan keempat, sebaliknya semakin banyak siswa yang  ari murid-murid...

Kepala Sekolah Yang Efektif

Gambar
“Ada sekolah tidak baik, walau dipimpin oleh kepala sekolah yang baik. Tapi, tidak ada sekolah baik dengan kepala sekolah yang tidak baik”.  (Prof. Ibrahim Bafadal, M.Pd) Cukup lama saya memikirkan apa sebenarnya makna kutipan diatas ketika pertama kali membacanya, sebelum saya menyimpulkan bahwa sebuah sekolah yang efektif tidak mungkin dipimpin oleh seorang kepala sekolah yang buruk, tetapi kepala sekolah yang buruk akan menjadikan sebuah sekolah yang baik menjadi buruk. Setelah itu ada muncul pertanyaan lain di benak saya, “ klo begitu, apakah  kriteria seorang kepala sekolah yang efektif dan bagaimana caranya menjadi kepala sekolah yang efektif?”. Untuk menjawab kedua pertanyaan itulah, saya mencoba membuat tulisan singkat ini, yang adalah merupakan refleksi selama memberi pelatihan, mendampingi dan membaca berbagai referensi tentang kepala sekolah. Let’s start Banyak penelitian menyimpulkan bahwa kepemimpinan yang efektif dari seorang kepala sekolah memiliki ...

Kami butuh pendidikan, bukan sekolah

Gambar
Beberapa tahun terakhir ini kita menyaksikan sekolah menjadi bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi. Tidak sedikit guru mengajarkan kebohongan justru di sekolah.   Sing jujur malah ajur.   Guru lebih mengharapkan jawaban yang benar dari murid-muridnya, bukan jawaban yang jujur. Menyontek dianggap biasa. Banyak kekerasan justru terjadi di sekolah secara fisik maupun non-fisik. Guru lebih mudah marah bila murid datang tidak berseragam daripada jika ia tidak membawa buku.  Sekolah hanya tempat guru mengajar, bukan tempat murid belajar. Sekolah menjadi penjara, ruang yang sempit bagi ekspresi multi-ranah dan multi-cerdas murid. Boleh dikatakan tidak banyak kompetensi yang bisa dipelajari di sekolah. Kreativiti dimatikan, penjelajahan gagasan-gagsan baru tidak terjadi. Proses pembelajaran diabdikan untuk tes dan   drills   kognitif pilihan-ganda bertubi-tubi, serta formalisme kronis   telah membuat sekolah kehilangan   joyfull learning and teach...

Guru Baru, bukan Kurikulum Baru

Gambar
Melihat potret pendidikan kita selama paling tidak satu dekade ini, sulit untuk tidak mengatakan bahwa pendidikan kita saat ini sesungguhnya dalam krisis. Setelah hasil Uji Kompetesni Guru jeblog, lalu rangkaian tawuran melanda sekolah dan kampus dengan korban tewas berjatuhan, belum lagi hasil evaluasi internasional yang menempatkan kinerja pendidikan Indonesia di papan bawah, Kemendikbud merespons dengan ide merombak kurikulum. Salah satu yang banyak dikeluhkan walimurid adalah kurikulum yang overloaded , pembelajaran yang direduksi menjadi drills dan try-outs dengan tes-tes berformat pilihan-ganda yang dilakukan bahkan jauh sebelum Ujian. Kemudian anak-anak ini harus les berbayar hingga malam. Begitulah pendidikan di sekolah-sekolah sudah terdisorientasi hanya sekedar untuk menguasai kompetensi tingkat rendah yang tidak penting bagi kehidupan abad 21.  Sementara pembelajaran sudah menjadi sekedar strategi untuk lulus ujian, guru semakin mengalami krisis kepercayan ...